Episodes
Namun aku tetap berdoa. Pun sebelum aku mengirim pesan perihal kepergianmu yang selalu tak bisa kau eja karena kepalamu setebal batu sehingga waktu cuma memberiku luka paling runcing.
Published 08/18/23
Published 08/18/23
Kita cukup sering merayakan Jakarta dengan air mata; perihal gigih perjuangan, adu cepat naik jabatan, sikut-sikutan… atau lebih sering karena perpisahan.
Published 08/18/23
Aku sudah sangat jauh melupakan kisah sedih dari sebuah kepergian yang brengsek, yang terkadang bisa sangat membahayakan kesehatan. Itu sudah berlangsung cukup lama, sampai pada hari ini kau memantiknya lagi.
Published 08/18/23
Apakah kau tahu kapan kegembiraan bisa meletup di dadaku? Ya, itu adalah saat aku tahu kau berhasil mencapai tujuaanmu setelah melewati semesta yang keras.
Published 08/18/23
Gambaran soal kita menjadi tua dan bisa bercengkrama di ruang keluarga, akhirnya dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa.
Published 08/18/23
Pada akhirnya kita harus meyakini bahwa kedekatan yang instan tak akan melahirkan hubungan yang panjang.
Published 08/18/23
Maka begitulah;  pada akhirnya aku cuma akan jadi pereda. Jadi penenang atau semacam mahluk tak kasat mata yang sampai lebaran monyet pun, muskil jadi pemenang. Di hatimu, tentu saja.
Published 07/26/23
Seringkali, biasanya di jam dua pagi, kamu ingin menyudahi hal-hal yang jadi rutinitasmu.
Published 07/26/23
Ini tentang kita; hubungan penuh goncangan gila yang akhirnya, bisa kita maklumi.
Published 07/26/23
Entah bagaimana semesta mengaturnya, kau dan aku terikat garis interaksi.
Published 07/26/23
Rencana kita itu kadang suka berubah atau dipaksa diubah.
Published 07/26/23
Bagi kita Jogja selalu menyimpan kejutan penuh debar. Kita berusaha menebak ending dari setiap pertemuan.
Published 07/26/23
Aku merasa… harusnya sejak awal aku sadar posisi dan tidak berharap lebih.
Published 07/26/23
Aku tahu ini terdengar klise. Tapi sungguh, aku sedang mendoakanmu dengan serius subuh ini –tentu di saat kebanyakan orang sedang tertidur.
Published 07/26/23
Hai Cegil. Ini aku, lelaki yang entah kenapa selalu kau ragukan keseriusannya.
Published 07/26/23
Maaf, Tuan. Kau diuji dengan kehadiranku.
Published 07/26/23
Kamu yang selalu dipaksa kepala untuk memikirkan banyak hal. Kamu selalu melakukannya karena menurutmu overthinking itu adalah
Published 07/26/23
Kamu itu mudah sekali menangis, dan di saat bersamaan kamu lihai menyembunyikannya.
Published 07/26/23
Akhirnya wajahmu tak lagi membayang dalam perialananku mengitari Jogja kala malam.
Published 07/26/23
Pernahkah kau merenungkan di malam menjelang Senin seperti sekarang, bahwa kau itu rusak. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuatmu tak berfungsi dengan baik
Published 07/26/23
Ada moment di mana aku ingin diperlakukan spesial olehmu.
Published 07/26/23
Seketika kiamat kecil terjadi di kepalaku. Jogja mempersembahkan seiris sakit lewat balasan DMnya yang... Hahh… yaaa… Patah hati singgah lagi.
Published 07/26/23
Kau salah alamat jika berpacaran denganku yang kau harap adalah aktivitas khas mahasiswa semester awal.
Published 07/26/23
Juniku kini datang –membawa lembaran kabar rahasia yang akan diberikan secara berkala.
Published 07/26/23